ALL

“Wonderful Tourism Ambassador 4.0 For Super Society 5.0”

By  | 

Studium Generale Politeknik Pariwisata Palembang | Foto: Istimewa

KedaiPena.Com – Kegiatan ‘Studium Generale’ atau Kuliah Perdana Politeknik Pariwisata Palembang merupakan salah satu kegiatan rutin bidang akademik yang dilaksanakan setiap semester di Politeknik Pariwisata Palembang.

Kegiatan ‘Studium Generale’ dilaksanakan pada hari Senin (12/8/2019) di Gedung Aula Politeknik Pariwisata Palembang dengan mendatangkan tiga narasumber yaitu Head of Academy of Sport and Physical Activity Sheffield Hallam University United Kingdom Prof Guy Masterman, Staf Ahli Menteri Pariwisata Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Kawasan Kreatif Dr. Anang Sutono MM. Par, CHE dan Praktisi Pariwisata Mawardi Yahya.

Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Politeknik Pariwisata Palembang Dr. Zulkifli Harahap, MM. Par, CHE. Jumlah mahasiswa baru tahun akademik 2019/2020 periode Juli-Desember 2019 sebanyak 301 orang yang terdiri dari 52 orang Program Studi Pengelolaan Konvensi dan Acara, 86 orang Program Studi Seni Kuliner, 82 orang Program Studi Divisi Kamar dan 80 orang Program Studi Tata Hidang.

Dr. Anang Sutono MM.Par, CHE Staf Ahli Menteri Pariwisata Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Kawasan Kreatif membawakan topik “Wonderful Tourism Ambassador 4.0 For Super Society 5.0”. Di hadapan 301 mahasiswa, Anang memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk membangun karakter sebagai “Leaders‟, generasi yang mampu memahami konsep visi dan misi kehidupan serta memiliki karakter yang solid.

“Ketika ucapan dan tindakan masing-masing individu mulai dapat mempengaruhi lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, maka pada saat itulah seseorang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin sejati,” kata dia.

‘Digital Mastery’ adalah sekumpulan ‘attitude’ dan skill penting terkait dengan aspek-aspek digital. Antara lain berupa ‘digital attitude’, ‘digital leadership’, ‘digital capability’, dan ‘digital culture’. Seorang pemimpin di 4.0 adalah seorang pemimpin yang bisa memahami aspek-aspek digital dalam bidang kehidupan kita.

Di mana ada lima aspek yaitu kemampuan untuk memimpin, kemampuan untuk memahami budaya digital, kemampuan untuk memahami sikap digital dan kepemimpinan digital dan itu semua untuk menghasilkan kinerja bisnis yang baik.

Untuk menjadi pemimpin era digital setiap individu harus bisa melakukan “hal yang benar” (‘do the right thing’), tetapi tidak hanya berhenti dengan melakukan “hal yang benar” melainkan harus diikuti dengan melakukan hal tersebut “dengan benar” (‘do the things right’).

“‘Sustainable tourism’ alias konsep pariwisata menguntungkan dari ekonomi, lingkungan dan sosial kini tengah digaungkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Program itu merupakan langkah Kemenpar berbenah menggencarkan pariwisata berkelanjutan yang dikenal dengan 3 P yaitu ‘People, Prosperity dan Planet’,” sambungnya.

Bagaimana bisa melestarikan alam, membangun manusia dan menyejahterakan. Pedoman itu selaras dengan kunci pengembangan pariwisata di Indonesia, yaitu semakin dilestarikan, semakin menyejahterakan. Pendekatan ‘planet’ atau melestarikan alam adalah bagaimana kita merawat dan menjaga tempat- people’tempat wisata. Aspek ‘yaitu harus perhatikan apa keinginan wisatawan. Salah satu langkah yang diwujudkan ialah, membangun destinasi wisata.

‘Digital leadership’ adalah kemampuan untuk memimpin di era digital, kemampuan ini didukung dengan pemahaman akan aspek-aspek digital. Salah satunya ‘digital culture’ atau budaya digital. ‘Digital culture’ merupakan budaya dimana kita menggunakan teknologi untuk kehidupan dan menjadikan bahwa digital merupakan kebutuhan penting seperti media sosial yaitu ‘Facebook’, ‘Twitter’, ‘Instagram’ dan lainnya.

“Adapun ‘digital attitude’ di mana setiap individu lebih bijak dalam membagikan berita/konten/’link’ sehingga berita yang disampaikan menjadi hal yang berdampak positif. ‘Digital capabilities’ merupakan keadaan dimana setiap individu sudah memiliki kemampuan dalam mengakses dan menggunakan aspek-aspek digital seperti penggunaan media sosial, internet, dan perangkat lunak lainnya. Apabila digital leadership dimiliki dan diterapkan dengan baik maka pada akhirnya akan menghasilkan kinerja bisnis,” sambung eks Kepala STP Bandung ini.

Kementerian Pariwisata memiliki program yaitu ‘Wonderful Indonesia Digital Tourism’ (WIDT) 4.0. Tujuan program ini adalah mempersiapkan insan pariwisata untuk bersaing di era digital 4.0. salah satunya dengan menciptakan program ‘Wonderful Indonesia Digital Tourism’ (WIDT).

Adapun program untuk menghasilkan para pemenang ‘Wonderful Indonesia Digital Tourism’ yang dilakukan melalui pemetaan kesiapan dengan cara menemukan dan menganalisa visi, kemampuan mengeksekusi, seberapa besar pengetahuan dan pengalaman dalam dunia digital baik tingkat kreatifitas dan inovasi beserta pola pikir sekaligus seberapa besar jaringan yang dimiliki.

“Membangun kemampuan di bidang digital yang memiliki 2 sub yaitu membangun kepemimpinan digital dan membangun budaya digital. Dan mulai menghasilkan para pemenang dimana para kandidat pemenang dilakukan monitoring dan evaluasi. Setelah itu dilakukan ‘coaching’ dan fasilitasi dalam kegiatan tersebut. Terpilih para pemenang. Dimana para pemenang akan diberikan bimbingan dan ‘reward’ serta menjadi ‘role model’,” lanjutnya.

Adapun ‘digital behavior’ dalam membangun kepemimpinan pariwisata adalah dengan menunjukkan bagaimana berinteraksi positif dalam membangun komunikasi di media sosial. Setelah para individu membangun perilaku dan sikap digital dan menerapkan kepemimpinan dalam dirinya maka mereka dapat menjadi duta pariwisata di era 4.0.

Laporan: Muhammad Lutfi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *