ALL

Tidak Ada Hubungan Agama dan Politik? Pembodohan!

By  | 
Ilustrasi Politik | Foto: Istimewa

Ilustrasi Politik | Foto: Istimewa

JIKA masih ada yang belum tahu hubungan antara agama dengan politik, mari kita ajak nyanyi saja.  Agar segera sadar dari pembodohan. Agar segera siuman dari pingsan kelamaan.

Banyak orang dengan tanpa ilmu yang memadai bilang bahwa tidak ada hubungan antara agama dengan politik, Islam dengan kekuasaan.

Saya tidak akan pakai teori yang ndakik-ndakik. Cukup dengan kita nyanyi lagu “Lir Ilir” yang digubah oleh Sunan Kalijaga.

‘Lir Ilir, Lir Ilir”. Sadar, sadar, jangan tidur dan pingsan terus. Segeralah siuman.

‘Tandure wis sumilir’.  Padi yang telah ditanam telah mulai tumbuh, orang Islam kala itu sudah mulai bertambah. Banyak orang yang tadinya berkepercayaan animisme dinamisme telah berhasil diajak memeluk Islam.

‘Tak ijo royo-royo’. Daunnya sudah hijau sekali. Mereka yang berislam sudah menampakkan keislaman mereka. Warna hijau juga jadi simbol Islam.

‘Tak sengguh pengantin anyar’. Semangatnya seperti semangat pengantin baru. Mereka yang baru memeluk Islam itu telah menunjukkan semangat yang besar untuk belajar dan mengamalkan ajaran Islam. Semangat mereka bagai semangat pengantin baru yang mengalami masa bulan madu.

‘Cah angon, cah angon, penekno blimbin kui’. Penggembala, penggembala, panjatkan pohon belimbing itu. Penggembala ada sebutan untuk penguasa. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda: “Setiap kalian adalah raa’in (penggembala/pemimpin) dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang ra’iyyat (gembalaan, rakyat)-nya”.

Terlihat sekali konsep rakyat berasal dari konsep yang digunakan dalam hadits Nabi. Pemimpin harus berjuang menggunakan kekuasaan mereka untuk berjuang. Kenapa belimbing? Lima liningnya itu sebagai simbol rukun Islam yang lima. Itu yang harus diperjuangkan.

‘Lunyu-lunyu penekno’. Walaupun licin, tetap panjat. Walaupun medan politik itu berat, tetap harus ditempuh. Ibarat orang yang panjat pinang, kadang sudah di atas, tapi kemudian melorot. Demikianlah medan berat politik. Harus bertahan.

‘Kanggo mbasuh dodot iro’. Untuk mencuci bajumu. Dan baju terbaik adalah taqwa, ‘wa libaasut taqwaa dzaalika khayr’. Ini adalah penegasan Al Quran.

‘Dodot iro, dodot iro, kumitir bedah ing pinggir’. Bajumu robek di bagian tepinya. Kualitas masih taqwa masih belum baik. Rakyat terutama harus dididik.

‘Dondomono jrumantono’. Jahitlah, buatlah yang robek tersambung kembali. Harus terus berusaha untuk memperbaiki diri dan rakyat. Harus dididik terus.

‘Kanggo sebo mengko sore’. Untuk menghadap nanti sore. Iman dan takwalah yang akan dijadikan sebagai bekal untuk menghadap Tuhan tidak lama lagi. Diibaratkan nanti sore.

‘Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane. Mumpung terang bulannya, mumpung tidak ada batas-batas  yang menghalangi. Manfaatkan dengan baik untuk berjuang. Manfaatkanlah politik untuk berjihad.

‘Yo surako surak iyo’. Sambutlah seruan ini dengan iya. Laksanakanlah dengan segera dan suka cita. Politik adalah sarana untuk mentransformasikan ajaran agama kita. Politik adalah alat untuk mewujudkan ‘baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur’. Maka umat Islam harus sadar. Sebelum semuanya terlambat.

Oleh Mohammad Nasih, Monash Institute

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *