ALL

Syarat Calon Independen di Pilkada Tangsel Berat

By  | 

Pilkada Serentak Tahun 2020 | Foto: Istimewa

KedaiPena.Com – Ketua Umum Suara Kreasi Anak Bangsa (SKAB), Dodi Prasetya Azhari menyatakan syarat minimal dukungan jalur perseorangan dinilai semakin berat pada Pilkada Tangsel 2020.

Seperti diberitakan sebelumnya, KPU Kota Tangerang Selatan telah menetapkan 71.143 dukungan KTP warga atau 7,5 persen dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) di wilayah Tangerang Selatan. Jumlah itu harus tersebar minimal empat wilayah kecamatan di Tangsel.

Syarat lain, dukungan bukan hanya e-KTP, tapi juga dilengkapi surat pernyataan dukungan. Berbeda dengan calon yang diusung dari partai politik ini.

“Persentase syarat dukungan untuk calon perseorangan lebih besar daripada calon yang diusung partai politik,” ujar dia, kepada¬†KedaiPena.Com, Selasa (12/11/2019)

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008, menyatakan ambang batas calon yang diusung partai politik sebesar 15%, sedangkan dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 menjadi 20%.

Adapun untuk calon kepala daerah yang maju melalui jalur perseorangan, semula 3% menjadi 6,5%, kenaikannya lebih dari 115%.

Pria yang kera dikenal Dodi mengatakan, syarat 71 ribu KTP yang wajib dikumpulkan hampir setara dengan perolehan suara partai terbanyak di Pileg 2019.

“Golkar saja sebagai pemenang peraih kursi DPRD kurang lebih total suaranya cuma 120 ribuan di Tangsel,” papar dia.

Yang jadi masalah adalah Undang-undangnya yang seolah membatasi dan malah mempersulit ruang kesempatan bagi calon independen tersebut.

“Syarat perorangan terkesan dibuat lebih sulit, jika dibandingkan dengan aturan verifikasi bagi parpol calon peserta pemilu,” beber dia.

Sistem politik terlalu berorientasi memudahkan parpol. Di sisi lain seolah sekuat tenaga menghambat calon perorangan untuk ikut berkompetisi.

“Kalau menurut Saya, khusus di Tangsel tahun ini sulit muncul calon independen. Melihat fakta dan karakter kehidupan masyarakat Tangsel itu sendiri,” sambungnya.

Separuh lebih dari pemilih di Tangsel itu adalah kelas menengah yang cenderung tidak terlalu ‘care‘ dengan isu politik.

“Sulitlah bagi calon perseorangan ataupun tim mereka mencari dukungan ke masyarakat, warga Tangsel kan kebanyakan ada di perumahan. Belum tentu juga mereka ada setiap waktu, sulit untuk dijumpai. Jadi, bagaimana mau berdiskusi dan mendengarkan sosialisasi dari calon perseorangan, waktu libur pun cenderung mereka isi dengan liburan,” jelasnya.

“Jadi calon independen di Tangsel cukup berat, pergerakannya berat. Apalagi tidak mempunyai mesin penggerak massa yang terbiasa, terlatih dan terdidik,” tegas dia.

Laporan: Sulistyawan