ALL

RR: Ahok Terbiasa Mainkan Dana ‘Non-budgeter’ dan Nyaris Bikin Indonesia Pecah

By  | 

RR Bersama Lieus Sungkharisma | Istemewa

KedaiPena.Com – Tokoh Nasional Rizal Ramli meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak mengangkat mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai bos BUMN.

Pasalnya, menurut RR begitu ia disapa, Ahok terbiasa memainkan dana ‘non-budgeter’, dana yang penggunaannya bertentangan dengan peraturan berlaku. Tidak hanya itu perlu dingat Indonesia sendiri nyaris pecah karena Ahok.

“Kalau Ahok (jadi bos BUMN) nanti (yang ada) keributan doang. Negeri nyaris pecah karena Ahok, Pak Jokowi mau bikin masalah baru aja,” kata RR dalam sebuah perbincangan di stasiun TV swasta, ditulis, Minggu, (17/11/2019).

Tidak hanya itu, lanjut Menko Ekuin era Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid itu, Ahok masih terindikasi terlibat dalam sejumlah kasus keuangan saat menjabat sebagai gubernur.

“Mulai dari kasus pembelian lahan RS Sumber Waras, lahan di Cengkareng, hingga bus Transjakarta dari Tiongkok. Itu kasus memperlihatkan dia tidak terbiasa dengan good governance,” tegasnya.

Sebaiknya, kata mantan Menko Maritim itu, jabatan yang diberikan pada Ahok dialihkan ke anak muda lain yang berpengalaman. Termasuk kepada kalangan Tionghoa lain yang lebih memiliki pengalaman eksekutif.

Sementara itu, pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi berujar, bagaimana pun juga Ahok seorang politisi yang berpotensi menimbulkan ‘conflict of interest‘ dalam pengelolaan kekayaan alam yang nilai ribuan triliun rupiah.

Fahmy juga menilai bahwa keputusan Kementerian BUMN yang memilih Mantan Gubernur DKI Jakarta itu masuk di perusahaan pelat merah sektor energi pun kurang tepat. Karena, Ahok sama sekali tidak berpengalaman di sektor tersebut.

“Sesungguhnya tidak tepat sama sekali mengangkat Ahok di PLN atau BUMN di bidang energi. Alasannya, Ahok tidak punya ‘track record‘ di bidang energi,” jelasnya.

“Keputusan mengangkat Ahok pada BUMN Strategis di bidang energi sangat blunder dan high risk, selain masalah lain yang memicu resistensi,” ungkap dia.

Laporan: Muhammad Hafidh