ALL

Pesona Jayapura: Dari Sejarah Hingga Kekayaan Alam dan Budaya

By  | 

Kota Jayapura| Foto: Istimewa

KedaiPena.Com – Sebagai ibu kota dari Papua, Jayapura dikenal memiliki banyak keanekaragaman baik budaya, destinasi wisata hingga nilai sejarah. Kota Jayapura sendiri diambil dari bahasa sanskarta yang tediri dari kata ‘Jaya’ dan ‘Pura’ yang berarti kemenangan serta kota.

Dilansir KedaiPena.Com, dari Buku Pesona Papua terbitan Kementerian Pariwisata, Minggu, (8/9/2019), Jayapura, sempat berganti nama dari tahun 1910 hingga 1962. Namanya, adalah Hollandia. Hal ini dilakukan lantaran Belanda menjadikan Papua sebagai Ibu Kota Papua Nugini yang dikuasainya.

Selepas wilayah tersebut dikembalikan kepada PBB dan kembali ke tangan pemerintah Indonesia, Jayapura sempat memakai nama Kota Baru. Nama Jayapura sendiri resmi digunakan pada tahun 1986.

Sebagai kota yang sempat dikuasai oleh Belanda, Jayapura juga memiliki nilai sejarah lantaran berperan penting dalam perang dunia II. Sempat dikuasai Jepang pada tahun 1942, pasukan sekutu kemudian memukul mundur Jepang.

Jayapura juga sempat dimanfaatkan oleh Douglas MacArthur sebagai markas pasukan untuk merebut Filipina pada 1945 dan menetralisir basis pertahanan Jepang di Rabaul, Papua Nugini pada 1944.

Monumen Douglas MacArthur | Foto: Istimewa

Pada periode ini lebih dari 20 markas militer dibangun. 500.000 pasukan Amerika pun dipindahkan ke Jayapura.

Atas keberhasilan tersebut, Jenderal MacArthur pun dibuatkan sebuah monumen di sekitar daaerah Sentani. Monumen tersebut berisi bertujuan untuk mengenang peran Jayapura semasa perang pasifik.

Danau Sentani

Jayapura masih menjadi kota transit sebelum dan sesudah menuju Lembah Baliem yang hingga kini masih populer di kalangan wisatawan mancanegara ketimbang domestik.

Selain itu, Jayapura juga memiliki sejumlah tempat wisata lain semacam Danau Sentani yang memiliki luas lebih dari 110 kilometer persegi dan memiliki 21 buah pulau kecil.

Danau Sentani | Foto: Istimewa

Nama Sentani dalam bahasa Indonesia berarti ‘di sini kami tinggal dengan damai’. Nama Sentani pertama kali dilontarkan dari mulut seorang pendeta yang melaksanakan misi misionarisnya di danau tersebut tahun 1898.

Yang menarik di Danau Sentani, terdapat 29 spesies ikan tawar. Tiga di antaranya merupakan spesies asli yang tidak terdapat di tempat lain di dunia. Namun tidak seperti di Danau Toba atau Tondano yang lebih populer, tak banyak tempat makan di sekitar Danau Sentani.

Untuk menggairahkan pariwisata di Danau Sentani, Pemerintah Kabupaten Jayapura membuat Festival Sentani yang digelar setiap dua tahun dengan menghadirkan atraksi, lomba budaya Papua hingga pameran kuliner, kerajinan, dan hasil bumi.

Nelayan di danau Sentani sendiri turut menyewakan perahu pribadi mereka untuk para wisatawan agar bisa mengelilingi pulau-pulau di sekitar Danau Sentani.

Di sekitar Danau Sentani terdapat 24 desa yang tersebar di 22 pulau. Danau Sentani sendiri merupakan bekas tempat pelatihan untuk pendaratan pesawat amfibi milik Angkatan Darat Amerikat Serikat.

Selain Sentani, pemandangan Jayapura dari atas bukit dapat pula dinikmati di Polimak. Sama seperti Hollywood di Los Angeles, Polimak juga dilengkapi plang raksasa bertuliskan ‘Jayapura City’. Merupakan salah satu titik tertinggi Jayapura.

Bila malam tiba tulisan Jayapura diterangi lampu sehingga terlihat jelas dari segala penjuru Kota. Seyogyanya, fasilitas di tempat ini belum tergarap dengan baik.

Membawa Pulang Koteka

Tradisi membelikan oleh-oleh sudah mendarah daging dalam masyarakat Indonesia dan koteka adalah suvenir unik dari Papua yang dapat di bawa pulang. Di Jayapura koteka bisa didapat di Pasar Hamadi yang buka dari pagi hingga sore.

Koteka | Foto: Istimewa

Selain koteka tersedia juga berbagai benda seni seperti panahan suku Asmat, piring kayu untuk menyajikan Papeda, hingga tas rajut warna- warni suku Dani.

Aneka oleh-oleh makanan pun tersedia di pasar ini, mulai dari keripik ketela, hingga keripik nangka, salak, dan nanas. Berbagai kaos warna- warni bertuliskan Papua dijajakan untuk menjadi alternatif oleh-oleh.

Laporan: Muhammad Hafidh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *