ALL

Penghargaan Menkeu Terbaik Karena Sri Mulyani Rajin Bayar Utang

By  | 

Menkeu Sri Mulyani | Foto: Tkr/KedaiPena.Com

KedaiPena.Com – Majalah keuangan internasional The Banker menobatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai ‘Finance Minister of The Year 2019’. Gelar tersebut diberikan atas capaian Kementerian Keuangan (Kemkeu) yang dianggap berhasil mengatasi berbagai tantangan perekonomian di sepanjang 2018.

Namun, Begawan Ekonomi Rizal Ramli menilai hal itu sebagai hadiah kepada Sri Mulyani karena berhasil jalankan agenda neoliberalisme di Indonesia.

“Menteri terbaik dari ‘The Banker’? Sudah tentu, karena memang (kelompok neoliberalisme) sangat diuntungkan,” kata Rizal dalam keterangan yang diterima Redaksi, ditulis Jumat (4/1/2018).

“‘Yield’ surat utang Indonesia termasuk tertinggi di dunia (8,5%) & rajin bayar utang. Kalai perlu kasih kecil anggaran BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), kasih rendah biaya asuransi bencana, dan lain-lain,” lanjut RR, sapaannya.

Seperti diketahui, BNPB pada tahun 2019 mendapat anggaran Rp 610 miliar. Anggaran itu dinilai Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho terlalu kecil bagi lembaganya. 

Bahkan, Sutopo menyebut anggaran BNPB dari tahun ke tahun semakin menurun. Dia mencontohkan penurunan anggaran tahun 2018 ke 2019 yang mencapai Rp 90 miliar. Untuk tahun 2018, sambung Sutopo, BNPB mendapatkan anggaran sekitar Rp 700 miliar.

Kembali ke penghargaan Sri Mulyani, Rizal yang pernah menjadi Menko Ekuin era Gus Dur dengan minus utang berujar, menkeu-menkeu hebat dari negara lain tidak pernah dapat hadiah seperti itu.

“Menkeu Singapora, Korea, Jepang dan lain-lai tidak pernah dapatkan hadiah-hadiah begitu karena mereka ‘neuhteur’ (pelit), tekan yield utang kepada kreditor serendah mungkin,” papar RR.

“Mereka selalu berupaya untuk menguntungkan rakyatnya, meminjam dengan bunga serendah mungkin. SMI, justru sebaliknya, berikan ‘yield’ setinggi mungkin setinggi sangat untungkan bankir international,” tandas dia.

Laporan: Muhammad Hafidh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *