ALL

Pemerintah Diharapkan Dapat Lakukan Penelitian Obyektif soal Vape

By  | 

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Personal Vaporizer Indoneaia (APVI) Banten menggelar acara rontgen bareng Komunitas Vaper Tangerang dan Mobile Rontgen Jakarta di Graha Raya Bintaro, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Minggu, (30/11/2019) | Foto: istimewa

KedaiPena.Com – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Banten menggelar acara rontgen bareng. Acara ini dilakukan bekerja sama dengan Komunitas Vaper Tangerang dan Mobile Rontgen Jakarta di Graha Raya Bintaro, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Minggu, (30/11/2019).

Acara ini dihadiri oleh Yudichank dari Therion DNA Indonesia selaku ketua pelaksana acara dan Andi Noval selaku pengurus APVI Banten juga pendiri Asosiasi Vaper Tangerang (AVTA)
dan 279 pengguna rokok elektrik (vaper) dari Jakarta Therion DNA Indonesia, Hexohm, Foxy.

Ketua Umum Therion DNA Indonesia Yudhichank, menjelaskan acara ini diinisiasi oleh Komunitas Vaper Indonesia atas reaksi yang dilontarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang baru-baru ini menyampaikan statemen bahwa pengajuan pelarangan rokok elektrik pada pemerintah. Namun tidak berdasar pada penelitian yang jelas.

“Vape bukan hal yang baru di Indonesia bahkan di dunia. Kami berharap pemerintahan mengadakan penelitian yang obyektif, seperti halnya yang dilakukan di Inggris. Di mana vape di sana sebagai produk resmi yang didukung oleh pemerintahnya, sebagai alternatif pengganti rokok,” ujar Yudhi, minggu, (1/12/2019).

Terpisah, pengurus DPW APVI Banten, Andi Noval, sangat mengapresiasi atas kegiatan komunitas ini. Menurutnya hal ini membuktikan bahwa pengguna vape cukup peduli dengan apa yang mereka yakini.

“Rata-rata pengguna vape ini sudah menjadi pengguna dengan kisaran lebih dari tiga tahun, dan mereka merasakan hasil yang sesuai harapan. Bahkan beberapa pengguna rajin melakukan medical check up dan menyimpan data tersebut sebagai bahan rekam jejak medis pribadi, yang mungkin suatu saat bisa menjadi salah satu dokumen pendukung,” papar Andi.

Lanjut Andi, beberapa negara memang melakukan pelarangan. Tapi bukan berarti vape buruk. Terbukti di Inggris yang sudah melakukan penelitian, malah negara tersebut menganjurkan penggunanya untuk beralih ke vape.

Andi menambahkan, dalam jurnal berjudul ‘Cardiovascular Effects of Switching From Tobacco Cigarettes to Electronic Cigarettes’ dijelaskan dampak vaskular awal, peralihan dari rokok tembakau ke rokok elektrik (vape).

“Dalam penelitian jurnal tersebut, para peneliti melakukan percobaan prospektif, percobaan kontrol secara acak berdasarkan preferensi non-acak paralel,” bebernya.

Andi melanjutkan, penelitian menyasar pada perokok kurang-lebih 18 tahun dan merokok sekitar 15 batang per hari selama kurang lebih 2 tahun. Dan terbukti bebas dari penyakit kardiovaskular.

Andi berharap melalui kegiatan ini masyarakat diharapkan mendapatkan edukasi tergadap rokok elektrik. Untuk mengetahui sisi baik dan dapat mencegah penyalahgunaan vape di Indonesia.

“Apalagi untuk Indonesia sendiri, vape ini sudah bercukai dan sudah melalui tahap uji, beberapa tahun ke belakang,” pungkas Andi.

Laporan: Sulistyawan