ALL

Mungkinkah Mahfud MD Menjadi Sosok ‘Ephialtes’ dalam Film ‘300’?

By  | 
Film 300 | Foto: Istimewa

Film 300 | Foto: Istimewa

KedaiPena.Com – Masih ingat dengan dengan film ‘300’ yang menceritakan kisah tentang pertempuran Thermopylae antara Sparta Yunani melawan Persia?

Film yang mengisahkan soal Raja Leonidas yang memimpin 300 Spartans ke dalam pertempuran melawan Persia ini merupakan film yang populer pada masanya.

Bagaimana tidak, film yang dirilis pada tahun 2006 ini memang memiliki plot cerita menarik. Di mana Leonidas sebagai seorang raja yang kaya akan keterampilan perang namun berakhir dengan kekalahan dari Persia.

Dalam awal cerita, Leonidas bersama prajuritnya kerap unggul dari Persia lantaran memanfaatkan jalur kecil ‘Hot Gates’ untuk melawan perang Sparta.

Kemenangan demi kemenangan, mewarnani awal pertempuran. Namun, gilang-gemilang tidak sampai akhir, Leonidas Cs kalah dari tentara Persia. Penyebab kekalahan Leonidas dan prajurit Spartan didasari, oleh sosok Ephialtes.

Elphialtes, seorang warga Sparta berkhianat dan memberikan jalur belakang ‘Hot Gates’ yang membuat 300 pasukan Spartan dikepung ribuan Persia.

Mengapa Elphialtes berkhianat? Karena dia ditolak menjadi prajurit Sparta oleh Leonidas.

Ephialtes sendiri merupakan anak dari orang tua yang melarikan diri dari Sparta supaya Ephialtes tidak dibunuh. Ephialtes meminta untuk menebus dosa ayahnya dengan bergabung dengan tentara.

Meskipun simpatik, Leonidas menolak Elphialtes karena ia cacat secara fisik dan tidak bisa memegang perisainya dengan cukup tinggi yang dapat mengacaukan formasi ‘phalanx’ tentara Leonidas.

Marah dengan penolakan Leonidas, Ephiatles pun bertemu dengan Raja Xerxes dari Persia. Ephiatles pun memberitahukannya tentang sebuah jalan rahasia yang dapat digunakan untuk mengepung tentara Sparta.

Ephiatles pun melakukan semua demi pertukaran untuk kekayaan, kemewahan, dan (terutama) seragam prajurit Persia.

Kisah 300 sendiri sangat mungkin terjadi jika melihat apa yang kini menimpa pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Hal tersebut didasari oleh sejumlah cerita dan drama dalam proses pemilihan nama pasangan Jokowi.

Jokowi sedianya akan menggandeng nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD sebagai pendampingnya pada Pilpres 2019.

Nama Mahfud sendiri sudah dipastikan akan menjadi pasangan Jokowi, jika mengacu sejumlah pemberitaan di media massa.

Mahfud sendiri mengakui sudah dihubungi oleh pihak Istana untuk mengukur baju dan menyiapkan CV sebagai pendamping Jokowi.

Namun demikian pada saat pengumuman nama cawapres Jokowi di Restoran Plataran, Menteng, Jokowi bersama ketum-ketum parpol koalisi, mantap menetapkan Rais Aam PBNU Ma’ruf Amin sebagai pendampingnya di Pilpres 2019.

Tak terima dengan situasi tersebut Mahfud MD pun buka-bukaan dalam sebuah acara di stasiun televisi. Mahfud membeberkan sejumlah nama dan intrik yang menyebabkan kegagalannya menjadi pendamping Jokowi.

Mahfud secara terbuka menyebut nama Ma’ruf Amin dan Said Aqil Sirajd di balik intrik tersebut. Saat namanya menguat mendampingi Jokowi, tiba-tiba muncul suara-suara dari PBNU yang mengancam akan meninggalkan Jokowi.

Mahfud juga menyebut nama Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy yang turut terlibat dalam intrik politik kegagalan Mahfud MD.

Balik menyerang, Mahfud secara terang-terangan menyebut dari sejumlah nama-nama tokoh NU yang disodorkan, hanya ada dua nama yang tidak terjerat korupsi.

“Cuma saya dan Said Aqil Siradj, yang lainnya ada kasus korupsinya,” katanya.

Mahfud MD tidak merinci lebih jauh nama-nama tokoh NU yang dianggap terjerat kasus korupsi itu.

“Jadi, nama-nama itu semua jelas, kasus korupsinya semua sudah tahu,” katanya.

Catatan redaksi, di antara kader NU yang diduga punya catatan kasus korupsi adalah Muhaimin Iskandar, yang terlibat kasus suap di Kemenakertrans. Kasus ini kemudian terkenal di publik dengan sebutan kasus kardus durian.

Kegagalan menjadi cawapres Jokowi berujung pada penolakan Mahfud MD untuk menjadi bagian dari tim sukses Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

Mahfud beralasan tidak bisa menjadi tim pemenangan lantaran saat ini tengah menjabat sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Namun demikian, di balik penolakan tersebut, Mahfud MD baru-baru ini bertemu dengan sosok Sudirman Said. Meski, Mahfud kembali membantah adanya tawaran menjadi timses Prabowo-Sandiaga.

Sosok Mahfud sendiri sangat besar untuk menjadi Ephialtes seperti dalam film ‘300’. Hal tersebut lantaran Mahfud mempunyai kartu truf yang dapat menyebabkan kekalahan bagi Jokowi.

Sedikit saja Mahfud membeberkan soal kegagalannya menjadi cawapres Jokowi, membuat banyak kalangan masyarakat yang mengaku kecewa dengan sikap Jokowi dan partai koalisi.

Direktur Eksekutif Point Indonesia, Karel Susetyo mengakui, Mahfud memang mempunyai potensi untuk membuat pasangan Jokowi-Ma’ruf kalah.

Pasalnya, kata Karel, pernyataan Mahfud beberapa waktu lalu tidak bisa diremehkan begitu saja oleh Jokowi Cs.

“Hal tersebut lantaran kemungkinan resistensi dari Gusdurian yang pro kepada Mahfud. Karena, Gusdurian tentu tak rela melihat Mahfud menjadi korban PHP (harapan palsu) Jokowi,” ujar Karel saat berbincang dengan KedaiPena.Com, ditulis Sabtu (25/8/2018).

Karel pun menilai, bukan tidak mungkin ke depan Mahfud akan membuat pernyataan yang menyebabkan kerugian besar bagi pasangan Jokowi-Ma’aruf Amin.

Kerugian tersebut, lanjut Karel, bisa membuat pendukung Jokowi hengkang ke kubu Prabowo-Sandiaga atau memilih untuk menjadi golongan putih.

“Dan hal itu bisa menurunkan suara Jokowi-Ma’aruf Amin secara signifikan,” tegas Karel begitu ia disapa.

Karel pun beranggapan, Jokowi sekarang tidak sensitif atas situasi tersebut. Hal itu lantaran lobi-lobi terhadap Mahfud tidak dilakukan intensif agar ia mau masuk dalam timses Jokowi-Ma’aruf.

“Lalu Juga kenapa kursi Menteri PAN RB tidak diberikan saja kepada Mahfud? Toh itu bisa menjadi hadiah pelipur lara buat dia,” ungkap dia.

Terpisah, partai koalisi yakin hubungan Jokowi-Ma’ruf dengan Mahfud MD baik-baik saja.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto membantah bahwa hubungan antara partai koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin dengan Mahfud MD retak pasca pernyataan eks Ketua MK itu di program ILC.

Menurut Hasto hubungan koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin dengan Mahfud MD tetap berjalan baik.

“Segala sesuatunya kan sudah selesai. Ungkapan ekspresi dari Pak Mahfud MD juga sudah disampaikan dengan baik. Tiba saatnya bagi kita untuk bergandengan tangan melangkah ke depan untuk bangsa dan negara,” ungkap Hasto.

Bagaimana episode lanjutan Mahfud MD? Menarik untuk ditunggu. Namun demikian, yang perlu diketahui satu musuh di dalam jauh lebih berbahaya dari ratusan musuh dari luar.

Laporan: Muhammad Hafidh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *