ALL

Mungkinkah Jokowi Tersungkur Seperti Hillary Clinton di 2016?

By  | 

Donald Trump dan Hillary Clinton | Foto: Istimewa

KedaiPena.Com – Baru-baru ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali melontarkan pernyataan mengejutkan. Pasalnya, mantan Gubernur DKI menyinggung sekelompok pihak yang diduga menggunakan konsultan dari Rusia pada perhelatan pilpres 2019 ini.

Pernyataan Jokowi soal propaganda Rusia disampaikan Jokowi  saat saat menghadiri acara deklarasi Forum Alumni Jawa Timur, Sabtu (2/2) di Surabaya. Jokowi yang merupakan capres petahana kembali bikin heboh dengan melontarkan istilah “propaganda Rusia” dan konsultan asing.

Meski pun Jokowi tidak merujuk kata ‘Rusia’ dalam sebutan sebagai sebuah negara lantaran pernyataan yang dimaksud adalah soal terminologi. Namun tetap saja pernyataan capres nomor urut 1 membuat heboh antero Indonesia.

Propaganda Rusia ini sendiri awal mulanya terkenal pada saat Pemilu Presiden AS tahun 2016 lalu itu hingga kini masih simpang siur. Belum ada bukti yang benar-benar sahih yang secara gamblang memperlihatkan kuatnya pengaruh Moskow dalam pemilu AS. 

Sejumlah laporan di media besar AS menyebutkan campur tangan Rusia dalam Pilpres 2016. Salah satunya laporan New York Times yang menyebutkan propaganda Rusia menyasar masyarakat kulit hitam AS selama Pilpres AS 2016.

New York Times mengutip studi dari New Knowledge berjudul “The Tactics & Tropes of the Internet Research Agency” yang menuliskan bahwa upaya IRA paling produktif di Facebook dan Instagram, dan secara khusus menyasar komunitas kulit hitam Amerika dan tampaknya telah difokuskan pada aktivitas pengembangan audiens kulit hitam dan merekrut warga kulit hitam AS sebagai aset.

IRA adalah akronim dari Internet Research Agency. Lembaga ini disinyalir sebagai aktor utama di balik operasi propaganda Moskow. Laporan New Knowledge sendiri adalah satu dari dua penelitian terkait IRA yang dipublikasikan oleh Komite Intelijen Senat AS.

Mungkinkah Bernasib Sama Seperti Hilary Clinton di tahun 2016?

Jika diketahui pada Pilpres AS tahun 2016 kubu Hilary Clinton yang pertama kali menghembuskan soal propaganda Rusia. Kala itu Hilary beserta tim menduga Donald Trump menggunakan propaganda Rusia.

Meski demikian, tuduhan propaganda yang dilayangkan kepada Trump nampak tidak terlalu berpengaruh kala itu. Sebab pada akhirnya Trump yang berhasil memenangkan pilpres di AS dan membuat Hillary gigit jari.

Pada sebelum berlangsungnya pemilu 2016 AS, Hillary unggul dari segala hasil survei dari Donald Trump. Hillary yang merupakan bagian dari kubu Presiden Obama kala itu diprediksi akan menang mudah dari Trump.

Mungkinkah nasib Jokowi akan sama dengan Hilary Clinton?

Pengamat Politik dari Universitas Al- Azhar, Ujang Komaruddin memberikan pandangannya terkait hal tersebut. Menurutnya, belum tentu Jokowi akan bernasib sama seperti Hilary Clinton.

“Semua kan tergantung Jokowi dan timnya apakah bisa mengantisipasi atau tidak. Kan sudah ada case (kasusnya) jadi Jokowi bisa mengantisipasi,” ujar Ujang kepada wartawan, Jumat (8/2/2019).

Ujang pun menilai jika serangan-serangan ala Rusia tersebut bisa dideteksi dan diantisipasi lalu diselesaikan, bisa saja Jokowi masih unggul.

“Begitu juga sebaliknya Jokowi gagal mengantisipasi, maka bisa saja Jokowi kalah,” kata Ujang.

Ujang pun menampik jika sikap Jokowi yang secara terang-terangan menduganya adanya propaganda Rusia pada pilpres 2019 akan membuatnya bernasib sama seperti Hilary.

“Jadi yang terpenting bagi Jokowi adalah mengantisipasi serangan ala Rusia tersebut dan sesekali meng kick balik. Penting untuk dibuka ke publik. Soal efektif atau tidak itu lain hal. Penting bagi Jokowi untuk mengatakan hal tersebut. Karena selama ini Jokowi sering dituduh anti asing,”  beber Ujang.

BPN Membantah

Kubu Prabowo-Sandiaga sudah membantah pihaknya menggunakan konsultan asing dalam pemenangan pemilu ini. Koordinator Juru Bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak, berkelakar kampanye yang dilakukan pihaknya bukan ala Rusia, melainkan ala lokal Bojongkoneng, yang merupakan nama tempat tinggal Prabowo di Bogor, Jawa Barat.

“Kampanye kami itu ala-ala Bojongkoneng, jadi konsultannya dari Bojongkoneng. Bahkan nggak punya konsultan. Konsultannya ya di Bojongkoneng sana, yaitu Pak Prabowo sendiri. Bojongkoneng itu di Hambalang, Kabupaten Bogor, ya,” tutur Dahnil.

“Jadi bohong kalau menyebut kami menggunakan konsultan Rusia. Yang benar adalah kami kampanye ala-ala Bojongkoneng. Dan kalau berdasarkan saran dari konsultan Bojongkoneng, ya khasnya harus joget-joget dikit gitu lo, joget-joget Gatotkaca,” sambung eks Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ini.

Laporan: Muhammad Hafidh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *