ALL

Mengapa Pemerintahan Kita Begitu Terbuka dengan Cina?

By  | 

Bendera Cina | Foto: Istimewa

BERITA mengejutkan tapi tidak aneh karena sudah patut diduga yakni Wakil Perdana Menteri RRC Liu Yandong dalam pidato 27 Mei 2015 di kampus UI menyatakan “bekerjasama” dengan Pemerintahan Indonesia untuk saling tukar warga dalam berkontribusi di bidang keamanan, politik, ekonomi, dan humaniora konon hingga jumlah 10 juta.

Jika benar, sepuluh juta orang Cina akan berada di Indonesia. Sementara tak akan banyak orang Indonesia ke negeri Cina. Atau orang Indonesia akan dikomuniskan (dulu) di negara Cina? Jika target tahun 2020 sudah masuk jutaan orang Cina di Indonesia. Mengerikan.

Secara khusus Liu Yandong menyinggung pogram “jalur sutra baru” kemaritiman yang direspons oleh sebagian rakyat kita sebagai bahaya menuju kolonialisasi Cina di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia.

Menteri Luhut telah menandatangani MOU dengan Pemerintahan Xi Jinping di Beijing beberapa waktu lalu. Beberapa pengusaha ikut serta. Katanya ini kerjasama bisnis antar swasta dan Pemerintah hanya memfasilitasi.

Tidak ada utang negara, kata Luhut. Tentu diragukan sebab fasilitasi itu biaya. Lagi pula aset negara kelak yang akan digunakan swasta. Penyesatan program ini akan menciptakan ketergantungan. Tak mungkin murni “business to business”. ‘Debt trap’ tetap mengancam.

Jutaan warga Cina datang untuk menambah warga Cina keturunan yang sudah menguasai sektor ekonomi terlebih dahulu di Indonesia. Lahan luas juga telah mereka olah dan miliki. Konglocina telah lama merajalela.

Bayangkan jika yang datang itu adalah tentara yang menyamar maka jika berhadapan dengan hanya ratusan ribu tentara Indonesia akan rawan sekali. Apalagi menyusup di segala sektor.

Liu Yandong memperjelas agenda. Kotak pandora esok akan terbuka. Ingat Pemerintah Cina adalah Pemerintahan Komunis. Bisnis tak akan terpisah dari aspek politis dan ideologis.

Mengapa Pemerintahan Jokowi begitu terbuka, bukankah dahulu kita hampir di kudeta PKI yang didukung Cina?

Kita mesti belajar pada negara yang babak belur oleh program “infrastruktur” Cina seperti Fiji, Tonga, Srilanka, Angola, Zimbabwe, Nigeria dan Pakistan.

Malaysia mengeluh atas kebijakan PM Najib yang dekat dengan Cina. Kini Mahathir dalam kesulitan. Jeratan Cina bisa menenggelamkan.

Para pemimpin kita jangan hanya memikirkan untung dari komisi atau kucuran dana lain untuk pribadi, keluarga atau partai. Masa depan bangsa dipertaruhkan. Tanpa kewaspadaan dan menjaga martabat maka Negara Indonesia akan hancur berantakan.

Memasukan warga Cina begitu saja adalah penghianatan negara. Sama dengan memasukan narkotika atau menembakan senjata kimia. Membunuh dan membantai generasi muda dan mengancam keberadaan bangsa dan negara.

Haruskah kita berkata selamat tinggal Negara Republik Indonesia?
Lalu, selamat datang Republik Indocina.

Oleh M Rizal Fadillah, Pengamat Politik, Tinggal di Bandung

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *