ALL

Masyarakat Lebih Memilih ke Mall, Apa yang Salah dengan Pasar Rakyat?

By  | 
Executive Director Yayasan Danamon Peduli (YDP),  Restu Pratiwi | Foto: Dok KedaiPena.Com

Executive Director Yayasan Danamon Peduli (YDP), Restu Pratiwi | Foto: Dok KedaiPena.Com

KedaiPena.Com – Menurunnya minat masyarakat untuk berkunjung ke pasar rakyat dibandingkan pasar modern maupun mall, dinilai oleh Executive Director Yayasan Danamon Peduli Restu Pratiwi sebagai akibat tidak adanya rasa memiliki dari semua pihak yang ada di pasar pada keberlangsungan pasar itu sendiri.

“Rata-rata pedagang di pasar rakyat, karena merasa sudah membayar retribusi, mereka menyerahkan semuanya pada pihak pengelola pasar. Padahal tidak seperti itu. Ini kan lahan mereka untuk melakukan transaksi. Sehingga ramai atau tidaknya pengunjung harusnya juga mereka pikirkan,” kata Restu, saat ditemui di sela-sela acara Festival Pasar Rakyat di Pasar Blauran Banjarmasin, Sabtu (15/9/2018).

Faktor kenyamanan merupakan faktor pertama yang bertanggung jawab atas tinggi dan rendahnya pengunjung pasar.

“Faktor kenyamanan, seperti kebersihan, kamar mandinya bagus, tidak ada copet, sistem keamanannya juga baik. Orang kan pengennya nyaman,” tegas wanita yang sudah berkeliling ke banyak pasar di Indonesia ini.

Faktor berikutnya adalah rasa memiliki dari pengelola pasar dan para pedagang sebagai stakeholder dari pasar.

“Pengelola pasar, sebagai perpanjangan tangan pemerintah dan pedagang pasar sebagai pihak yang melakukan transaksi harusnya memiliki  rasa memiliki pada pasar itu. Sehingga akan muncul suatu keinginan untuk menjaga kualitas dan mengembangkan pasar. Jadi, pengunjung akan tetap datang ke pasar. Bukan hanya untuk melakukan pembelian tapi juga karena pasar merupakan suatu ruang publik serbaguna,” papar Restu lebih lanjut.

Restu menekankan bahwa penting disadari oleh seluruh stake holder pasar, jika ingin bersaing dengan pasar modern maupun mall, maka harus melakukan kegiatan yang mampu menarik pengunjung untuk datang ke pasar.

“Harus ditonjolkan kelebihan pasar itu apa? Misalnya bahan-bahannya yang fresh, bukan frozen. Harganya yang murah. Atau keterikatan emosional pembeli dengan penjual, yang biasanya tidak didapatkan pada pasar yang ada di mall,” ucapnya.

Salah satu yang disorot juga oleh Yayasan Danamon Peduli, adalah masalah tunggakan retribusi yang dialami oleh beberapa pasar yang ada di Kota Banjarmasin.

“Dari hasil penelitian Yayasan Danamon Peduli, pada beberapa pasar memang terdapat tunggakan pembayaran retribusi yang jumlahnya tidak sedikit. Para pedagang melakukan penunggakan dengan alasan bahwa pasar sepi, tidak ada transaksi jual beli. Akibatnya pihak pengelola pasar pun tidak memiliki dana untuk melakukan revitalisasi maupun kegiatan,” kata Viko, salah satu staf Yayasan Danamon Peduli.

Kondisi ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Banjarmasin, yang menyatakan memang ada tunggakan pada beberapa pasar di Kota Banjarmasin.

“Memang ada beberapa tunggakan, yang berasal dari sekitar tahun 90an. Kami sekarang sedang mencoba membereskannya. Dan juga kami sedang mengupayakan agar transaksi jual beli meningkat. Sehingga para pedagang mampu menyelesaikan tunggakan mereka,” kata Khairil.

Harapan kedepannya, Festival Pasar Rakyat ini dapat menjadi agenda tahunan di Kota Banjarmasin, sehingga mampu menaikkan citra pasar rakyat dan ujung-ujungnya akan memberikan nilai ekonomi lebih pada para stakeholder dan juga lingkungan sekitar.

Laporan: Ranny Supusepa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *