ALL

Lindungi Alam, Warga Buka Ekowisata Gunung Kapur

By  | 

Komunitas PEACE | Foto: Istimewa

KedaiPena.Com – Warga sekitar Gunung Kapur Ciampea, Bogor, Jawa Barat sempat dibuat resah oleh gencarnya penambangan liar di wilayah tersebut. Jika dibiarkan, masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan Puncak Galau takut jika kerusakan alam akan membawa bencana.

Oleh karenanya, warga yang sadar lingkungan melakukan inovasi agar gunung tempat mereka tinggal terus lestari dan penambangan liar dapat dihentikan.

“Dulu banyak warga suka mengambil batu. Mulai dari yang memakai palu dan linggis hingga pemakaian dinamit untuk peledak,” kata Penasehat Volunteer Peduli Alam Ciampea (PEACE), Den Gala saat ditemui KedaiPena.Com, ditulis Rabu (13/3/2019).

Di samping melakukan demonstrasi di lokasi tambang, warga juga menyulap lahan Gunung Kapur menjadi kawasan ekowisata. Gerakan ini dilakukan agar masyarakat lain yang belum paham, akhirnya dapat mengerti jika banyak orang luar desa yang datang.

“Tidak lupa juga kita lakukan edukasi dan sosialisasi kepada warga. Sampai akhirnya tahun 2015 kita jadikan Gunung Kapur ini menjadi lokasi ekowisata,” tambah dia di rumahnya yang masih di wilayah Gunung Kapur Ciampea.

Menurut Deden, kawasan ekowisata yang mendatangkan banyak pengunjung, akan memberikan dampak ekonomi yang nyata untuk masyarakat dengan tetap melindungi alam dari kerusakan.

“Sekarang Alhamdulillah, pemasukan dari tiket masuk dan parkiran bisa kita kelola untuk kemajuan kampung. Warga yang membuka usaha warung pun terbantu dengan adanya wisatawan yang datang. Tiketpun termasuk asuransi ya,” sambungnya.

Dari pemasukan yang ada, pengelola juga menyisihkan anggaran untuk penghijauan. Bahkan banyak komunitas luar kampung yang bergabung dengan mereka.

“Dibantu banyak komunitas yang datang, tergantung bagaimana mereka saja. Kalau butuh bantuan, kita juga terlibat. Titik penanamannya nanti ditentukan agar merata,” lanjut Deden lagi.

Meski begitu, Deden masih resah dengan sisi gunung lain yang berada di luar jangkauan masyarakat binaannya.

“Bersatunya kita, warga dan komunitas lain itu sekarang membuahkan hasil. Penambangan bisa stop. Tapi agak susah di gunung sisi timur. Karena di sini ada tiga puncak. Galau, Lalana dan Batu Roti,” sambungnya.

Deden berharap, usaha pelestarian ini akan berkembang hingga ke semua titik dan pelosok gunung.

Laporan: Muhammad Lutfi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *