ALL

Latifa Perbanas: Pemukulan Penyidik KPK Lebih Parah dari Kasus Novel

By  | 

Haryono Umar mengenakan toga Perbanas Institute | Foto: Istimewa

KedaiPena.Com –   Pemukulan kepada dua penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terjadi di Hotel Borobudur, pada minggu, (3/2/208) jauh lebih parah dari pada kasus yang menimpa Novel Baswedan setahun silam. 

Pasalnya penganiyaan kepada dua penyidik KPK terjadi saat sedang bertugas. Tidak hanya itu kedua penyidik itu juga sedang melakukan pengecekan tentang indikasi adanya korupsi.

Demikian disampaikan oleh Direktur Latifah Perbanas Haryono Umar saat berbincang dengan KedaiPena.com, terkait dengan pemukulan dua pegawai KPK.

“Ini lebih parah dari kasus Novel karena penyidik tersebut sedang bertugas. Perlu diingat mencederai petugas, menghalangi proses penyidikan terbukanya kasus besar dan mengambil barang yang kategorinya rahasia negara. Ini merupakan pelanggaran berat,” ujar Haryono di sela wisuda Perbanas Institute, JCC Senayan, Senin (4/2/2019).

Kondisi tersebut yang membuat Haryono menuntut agar pihak kepolisian dapat mengusut tuntas tindakan penganiyaan tersebut. Haryono bahkan mendorong agar polisi dapat membongkar aktor intelektual dari kejadian tersebut.

“Polisi harus memberikan pasal-pasal berlapis atas tindakan penganiyaan ini. Apalagi ini sudah ketahuan siapa pelakunya. Beda dengan kasus Novel yang pelakunya langsung hilang,” tutur Haryono.

Tidak hanya itu, Haryono juga meminta, agar lembaga anti rasuah yang berkantor di Kuningan, Jakarta Selatan itu juga dapat menindaklanjuti dugaan korupsi yang menjadi penyebab dari pemukulan tersebut.

“KPK harus tetap mendorong dugaan korupsi pada kasus ini kalau tidak akan terulang lagi,” papar Haryono.

Haryono pun berharap agar ke depan KPK dapat memberikan perlindungan kepada penyidik yang sedang bertugas mengusut dugaan kasus korupsi. KPK harus punya sistem untuk memberikan perlindungan kepada para penyidik.

“Harus punya sistem. Jadi bila kondisi sedang gawat markas besar KPK bisa melihat dan harus ada pengawalan dini yang bisa melindungi penyidik saat sedang bertugas. Biro pengamaan KPK bisa dioptimalkan. Tapi kalau membekali penyidik KPK dengan senjata api, belum perlulah,” tutup eks pimpinan KPK tersebut.

Untuk diketahui KPK kembali menjadi sorotan setelah dua penyidik dianiaya orang saat bertugas melakukan pengecekan tentang indikasi adanya korupsi, di salah satu hotel di Jakarta. 

Kedua penyidik tersebut dianiaya saat ketahuan mengikuti Gubernur Papua Lukas Enembe dalam sebuah rapat di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (2/2/2019). Awalnya penyidik KPK bernama Muhammad Gilang W diketahui oleh Sekda Papua Hery Dosinaen yang melihatnya mengambil gambar Lukas Enembe.

Laporan: Muhammad Hafidh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *