ALL

Ketimbang Gunakan Voting, Munas Golkar Disarankan Pilih Musyawarah Mufakat

By  | 

Bendera Partai Golkar | Istimewa

KedaiPena. Com – Direktur Eksekutif
Lembaga EmrusCorner Emrus Sihombing menyarankan agar Munas Partai Golkar yang akan diselenggarakan pada bulan Desember 2019 dapat menggunakan mekanisme musyawarah ketimbang voting.

Emrus mengatakan setidaknya ada sejumlah keuntungan yang didapat oleh partai Golkar bila munas nanti diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme musyawarah mufakat.

“Pertama sesuai dengan budaya demokrasi ke-Indonesia-an. Kedua benar-benar berbasis pada sila ke-empat dari Pancasila dan Pembukaan UUD. Ketiga memperkecil atau meniadakan polarisasi di internal partai. Keempat mencegah konflik di internal partai. Dan kelima reputasi Golkar tetap terjaga dengan baik di tengah masyarakat,” ujar Emrus dalam keterangan kepada awak media, Senin, (18/11/2019).

Emrus melanjutkan, dengan menggunakan mekanisme musyawarah sendiri juga turut memelihara soliditas di internal partai dan mencegah munculnya dua “nahkoda”.

“Dapat memelihara kekompakan di internal partai terutama menghadapi Pilkada 2020. Lalu biaya politik lebih murah dan meniadakan kemungkinan praktek politik karena tawaran “logistik” yang kebih besar. Sehingga menjadi fokus pada perjuangan politik,” papar Emrus.

Emrus menegaskan musyawarah mufakat sendiri juga akan mampu merumuskan politik kebersamaan dan mengakomodasi pemikiran dan program dari setiap aspirasi pemilik hak suara.

“Lalu juga mengedepankan komunikasi politik dialogis, dan menghindari politik “menang-kalah” antar faksi,” tutur Dosen di Universitas Pelita Harapan (UPH) ini.

Emrus menegaskan hal ini akan jauh berbeda bilamana sistem munas menggunakan voting. Kemungkinan munas Golkar akan menjadi lebih dekat dengan demokrasi liberal daripada demokrasi ke-Indonesia-an, yaitu musyawarah mufakat.

“Selain itu semua, saya mengusulkan agar Munas Golkar sejatinya melalui musyawarah mufakat. Jika tidak dengan musyawarah (tetap ngotot dengan voting), maka terlebih dahulu mengganti nama kegiatan dari “musyawarah nasional” (Munas) menjadi “voting nasional” (Vonas) atau “kongres nasional” (Konas),” ungkap Emrus.

Emrus pun menilai dua kandidat yang akan maju pada munas Golkar yakni Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo juga lebih memilih sistem dengan menggunakan musyarawah mufakat.

“Airlangga Hartarto memilih musyawarah, menurut saya, karena selama ini dia memimpin Golkar selalu melakukan komunikasi politik di internal Golkar dengan mengedepankan poin-poin di atas,” ungkap Emrus.

“Sedangkan Bambang Soesatyo, saya juga berpendapat, dia lebih senang dengan musyawarah di Munas Golkar awal Desember 2019, karena dia sesungguhnya “produk” dari musyawarah menjadikan dirinya duduk di kursi nomor satu di MPR-RI,” tandas Emrus.

Laporan: Muhammad Hafidh