ALL

Kemenpar Belajar Pengelolaan Desa Wisata dari Negara-negara ASEAN

By  | 

Kementerian Pariwisata | Foto: Istimewa

KedaiPena.Com – Penyelenggaraan ASEAN Plus Workshop on Tourism Village Community Service and Product Enchancement to Attract Youth Travellers in Millenial Era di Desa Wisata Pentingsari, Sleman, beberapa waktu lalu dimanfaatkan oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk menggali ide dan strategi baru pengembangan desa wisata di Indonesia.

“Untuk memperoleh ide-ide baru untuk penyempurnaan strategi pengembangan program pendampingan desa wisata dengan perguruan tinggi,” ujar Asdep Pengembangan Pariwisata dan Hubungan Antar Lembaga, Deputi Bidang Industri dan Kelembagaan Kementrian Pariwisata, Wisnu Bawa Taruna Jaya, kepada KedaiPena.Com, Rabu (18/9/2019).

Wisnu mengatakan, kegiatan ASEAN Plus Workshop on Tourism Village Community Service and Product Enchancement to Attract Youth Travellers in Millenial Era digelar untuk berbagi pengalaman dari negara-negara Asean soal pengelolaan desa wisata.

“Bagaimana mereka mengelola desa wisata agar kita bisa menyempurnakan pedoman program,” kata Wisnu begitu sapaanya.

Wisnu menambahkan para peserta dari kalangan pengelola di daerah bisa berjumpa dan bertukar pikiran dengan teman-teman di Asean soal pengelolaan desa wisata.

“Jadi dapat membuka wawasan dalam mengelola desa wisata,” tegas dia.

Target 2.000 Desa Wisata di 2020

Asdep Pengembangan Pariwisata dan Hubungan Antar Lembaga, Deputi Bidang Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Wisnu Bawa Taruna Jaya | Foto: Istimewa

Wisnu menambahkan saat ini desa wisata sudah mencapai seribu desa wisata. Diharapkan 2020 sudah bisa sampai target 2.000 desa wisata terealisasi.

“Makanya perlu dukungan pemerintah daerah setempat,” kata Wisnu.

Wisnu menjelaskan, komitmen kepala daerah diperlukan untuk mempercepat terwujudnya desa wisata. Dia pun mengakui bahwa belum semua kepala daerah di Tanah Air kompak berkomitmen untuk mewujudkan desa wisata di daerahnya.

Padahal, desa wisata yang merupakan bagian dari pengembangan pariwisata Indonesia merupakan salah satu titik potensi potensial sebuah daerah di luar pemanfaatan sumber daya alam (SDA) tersebut.

“Sekarang cadangan alam kita itu kaau digali terus akan habis tentunya. Coba contoh Arab Saudi yang sudah berani mengembangkan pendapatan negaranya lewat sektor tourism karena sektor ini tidak merusak tapi memelihara,” jelas dia.

Laporan: Muhammad Lutfi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *