ALL

Indonesia Membutuhkan Kepemimpinan Nasional yang Kokoh

By  | 

Ilustrasi Pilpres | Foto: Istimewa

KedaiPena.Com – Indonesia membutuhkan kepemimpinan nasional yang kuat dan Jiwa nasionalisme yang kokoh.

Demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Badan Koordinasi Muballigh se Indonesia (Bakomubin) Tatang Mohammad Natsir dalam keterangan pers yang diterima KedaiPena.Com, Jumat (11/1/2019).

“DPP Bakomubin sangat berkeyakinan, bahwa untuk membangun sebuah bangsa dan negara Indonesia yang di cita-citakan, yaitu bangsa dan negara Indonesia yang berdaulat, berkemajuan, beradab dan bermartabat dalam pergaulan dunia, bukanlah sebuah perkara yang mudah,” paparnya.

Ia melanjutkan, sangat dibutuhkan kesadaran basional yang tinggi, yaitu jiwa nasionalisme yang kokoh dari seluruh komponen bangsa dan kepemimpinan nasional yang tangguh, kuat dan berwibawa.

“Kepemimpinan yang mampu mengarahkan dan atau merealisasikan cita-cita nasional, yaitu membangun NKRI yang utuh, kokoh dan jaya serta mampu mewujudkan kemakmuran, keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,” sambung dia.

Masih kata Tatang, kepemimpinan nasional harus tangguh, kuat dan berwibawa serta jiwa nasionalisme yang kokoh. Kepemimpinan nasional harus menyatupadukan seluruh komponen bangsa, adalah modal paling utama yang akan mengantarkan kepada tercapainya kemajuan dan kejayaan NKRI tercinta.

Di dalam aspek politik dan perspektif demokrasi, Bakomubin berpendapat, bahwa ada kehidupan dan perkembangan politik dewasa ini, belum terwujud apa yang disebut dengan sistem demokrasi yang sehat, bersih dan elegan.

“Di dalam menyalurkan aspirasi politiknya, rakyat negeri ini masih terbawa arus euforia dan politik yang kebablasan. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh jajaran pimpinan pemerintahan, dan para elit politik nasional, untuk membangun dan mengembangkan kehidupan politik yang demokratis berdasarkan pancasila yang beretika dan berkeadaban tinggi,” lanjut dia.

Hendaknya dijauhi perilaku politik yang liberal dan sekuler yang penuh dengan kecurangan, hoax dan ujaran kebencian. Sebab perilaku politik demikian, dapat menyeret dan menggiring bangsa pada perpecahan.

“Di bidang sosial ekonomi, kami menyerukan kepada pengelola Pemerintahan negeri ini, agar dapat mengelola Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia yang kaya raya dengan sebaik-baiknya. Demi mewujudkan kekuatan ekonomi bangsa dan memanfaatkannya demi sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” kata Tatang lagi.

Oleh karenanya pengelolaan dan penguasaan kekayaan Sumber Daya Alam oleh pihak aseng dan asing, harus segera dikurangi, direformasi dan atau dinasionalisasi. Sebab apabila tidak dilakukan reformasi dan atau nasionalisasi, akan membahayakan kemandirian dan eksistensi bangsa dan negara di masa depan.

Selanjutnya, rakyat Indonesia sebagai sumber tenaga kerja yang melimpah, harus dilindungi, diberdayakan dan diutamakan sebagai kekuatan ‘human capital investment’, dengan tidak membuka peluang kepada masuknya tenaga kerja asing. Adalah sebuah ironi nasional, apabila tingkat pengangguran tenaga kerja Indonesia sangat tinggi, sementara tenaga kerja asing masuk ke Indonesia dengan masif.

“Di bidang sosial, kemasyarakat dan budaya. Bakomubin mengajak seluruh jajaran pimpinan pemerintahan, para elit politik nasional dan seluruh elemen atau komponen bangsa untuk secara sungguh-sungguh mewujudkan persatuan, dan kesatuan serta harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” beber Tatang.

Untuk terwujudnya persatuan, kesatuan dan harmoni antar elemen atau komponen bangsa, resepnya menurut ajaran Islam adalah terjalinnya secara kokoh ‘ukhuwah imaniyah, ukhuwah wathoniah dan ukhuwah basyariah’, tiga prinsip dasar ukhuwah yang menyatukan keberagaman kita dalam wujud bhineka tunggal ika.

“Apabila tiga prinsip dasar ukhuwah ini dijalankan oleh seluruh elemen atau komponen bangsa dan semua pemanggku kepentingan di NKRI tercinta ini, maka pesta demokrasi di bulan April 2019, Insya Allah akan berjalan dengan Jurdil dan Luber dan membuahkan Pemilu yang tertib, damai, berkualitas dan bermartabat,” lanjut paparannya.

Laporan: Muhammad Hafidh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *