ALL

Buruh, Negara dan Ketertindasan

By  | 
Demo Buruh | Foto: Ilustrasi

Demo Buruh | Foto: Ilustrasi

BERKALI-kali saya baca tulisan “Buruh dan Negara: Tawanan Kaum Pemodal” karangan Romo Jesuit B. Herry-Priyono, yang diposting Beathor Suryadi, di group WAG Indemo. Saya simpan dulu postingan itu untuk dibaca dengan penuh perhatian pada saat yang membutuhkan kosentrasi.

Alasan saya, pertama, Group Indemo, milik Hariman Siregar merupakan tempat diskusi para aktifis kawakan yang masih punya kecintaan mendalam pada bangsa dan negara. Kedua, Beathor yang memposting tulisan tersebut adalah tangan kanan penguasa utama Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan di lapangan, khususnya, saat Beathor menjadi operator politik di KSP (Kantor Staf Kepresidenan).

Hal ini bisa diartikan tulisan ini merupakan cara pandang yang menjadi pegangan dari kelompok penguasa saat ini. Ketiga, tulisan ini ditulis pemikir Katholik yang banyak jadi rujukan, khususnya aktifis Katholik di Indonesia.

Tulisan Romo Herry dimulai dengan kisah bunuh diri seorang buruh di Jepang beberapa dekade lalu. Buruh ini sudah berjuang keras untuk memperbaiki nasibnya, bekerja 18 jam sehari atau 80 jam seminggu. Namun, hidupnya tidak ada perbaikan. Kesejahteraan tetap rendah. Dan akhirnya dia putus asa, lalu menggantung diri, mati, dalam usia 20-an.

Selanjutnya, Romo Herry menyoroti semangat ekonomi kapitalisme di mana para pemilik modal hanya bekerja untuk mementingkan akumulasi keuntungan mereka. Dia meyakinkan pembaca bahwa PHK adalah keinginan pemilik modal untuk mengurangi biaya dan sekaligus memperbanyak keuntungan pemilik modal.

Pemilik modal bohong belaka jika berkata bahwa dia berbakti buat bangsanya karena menciptakan lapangan kerja, sesungguhnya itu sesat berpikir, sebab terciptanya lapangan kerja bukan keinginan pengusaha, melainkan akibat saja. Keinginan sesungguhnya adalah menciptakan laba.

Mengutip bahasa Gunnar Myrdal, Romo menjelaskan bedanya Ex Post vs Ex Ante. Terciptanya lapangan kerja hanya ex-post (akibat) belaka. Bukan ex ante (keinginan atau rencana awal).

Romo juga menggugat kesenjangan ‘income’ yang semakin dalam antara buruh dan majikan (plus para manajernya). Buruh tetap terjebak dengan upah murah, yang hanya cukup untuk sekadar kebutuhan hidup minimal, sedangkan pemilik modal dan manajernya meroket kekayaannya.

Dalam pandangan dia, penguasa modal sudah menjadi Leviathan (monster jahat), yang bukan hanya memangsa buruh, tapi juga memangsa negara untuk menghancurkan nasib buruh.

Romo Herry menekankan perlunya menggugat kerakusan kaum pemodal, lalu memberikan sistem nilai pada demokrasi di mana monster Leviathan tersebut bisa dikontrol. Di akhir tulisannya, Romo Herry memberi pemihakan pada kaum miskin, khususnya buruh untuk didukung.

Negara, Buruh dan Ketertindasan

Meskipun Kivlan Zen dan kelompoknya yang mengatasnamakan Islam, menyerang komunisme sebagai musuh besar, namun sampai saat ini hanya komunisme-lah yang mampu menjelaskan struktur ketertindasan dalam sebuah negara bangsa.

Kivlan dkk tidak sedikitpun terdengar mengutuk kapitalisme sebagai penindas. Meskipun Romo Herry seorang tokoh Jesuit, Orde Gerakan Katholik yang paling disegani, mencoba menjelaskan bagaimana ketertindasan buruh dalam tulisannya tersebut, analisa-analisa Romo tersebut hanya bisa dibenarkan dan dipahami dalam kerangka Marxian.

Pertama, negara menurut Romo tidaklah nyata melainkan hanya untuk kepentingan pemilik modal. Dari 4 pendekatan mendefinisikan negara (State Centris/Weberian, Pluralis/ instrumentalis, Elite dan Analisa Kelas), pikiran Romo lebih dekat dengan analisa kelas. Di mana pemilik modal merupakan kelas sosial yang mengendalikan negara kapitalis.

Kedua, kesenjangan yang terus meningkat dalam analisa Romo, yang saat ini sudah menghasilkan 4 orang terkaya Indonesia sebanding dengan 100 juta orang miskin, dalam hal asset, hanya bisa dilihat dari pandangan marxis bahwa kapitalis memang tidak mempunyai belas kasih.

Mereka memang rakus dan terus mengakumulasi kekayaannya, tanpa peduli dengan mayoritas yang miskin. Hal ini bertolak belakang dengan kaum agamis, termasuk Romo sendiri, yang memungkinkan adanya watak pemurah dan pengasih dari kalangan pemilik modal.

Ketiga, romo memberikan dukungan terbuka untuk kaum buruh. Hal ini hanya bisa dibenarkan dengan analisa Marxian bahwa buruh yang kuat adalah satu satunya jalan untuk mengimbangi kekuatan kelas pemilik modal.

Sebenarnya, awal cerita Romo Herry tentang buruh yang bunuh diri di atas, juga merupakan akibat alienasi (keterasingan) dalam konsep Marx. Dimana, buruh pada akhirnya terperangkap dalam kehidupan yang dikendalikan pasar.

Pikiran pikiran utopis maupun idealis seperti T.H. Marshal tentang Citizenship dan Negara Kesejahteraan, atau Rawl tentang keadilan atau pendiri Republik Indonesia tentang keadilan sosial sebagai tugas negara, seringkali menjadi tawaran kosong sebagai jawaban atas struktur ketidak-adilan dan ketertindasan buruh, serta kaum miskin lainnya.

Romo, misalnya, menekankan “Demokrasi juga menyangkut civic accountability“. Ini adalah sebuah “value”, seperti Marshal secara sepihak menetapkan hak-hak warganegara. Namun, apa dan bagaimana struktur sosial itu bisa diubah? Apakah dengan percaya pada khotbah-khotbah pendiri negara?

Jika kita merujuk pada perubahan struktur sosial di Eropa, seperti yang disajikan Pikkety dalam Capital, yang menunjukkan terjadinya trend keadilan sosial di Eropa sepanjang tahun 1910 sampai 1980-an, tentu perubahan ini adalah akibat menguatnya sosialisme dan atau komunisme di Eropa saat itu.

Otto Von Bismark, mulai “memanjakan” rakyat miskin , dimulai 1880-an, untuk merebut simpati mereka dari cengkeraman kaum sosialis.

Tentu saja perang dunia pertama dan kedua, yang menyebabkan resesi, serta pengkhianatan kaum borjuis, ikut andil dalam menciptakan tatanan kompromi antara kaum pemodal dengan rakyat miskin, yakni via welfarestate itu.

Jika data pengurangan kesenjangan di negara komunis dan menjadi setengah komunis China dicermati, maka selama puluhan tahun belakang ini, China telah mengangkat lebih dari 600 juta buruhnya ke tingkat kehidupan layak, sementara Indonesia tetap merana.

Di sini kita melihat sekali lagi, bahwa konsep negara adalah konsep netral. Sedangkan pemihakannya terjadi tergantung siapa yang menguasai negara. Jadi, negara dalam pengertian Weberian, bahwa negara itu ada dan bertindak, hanyalah semu belaka.

Pikiran Romo Herry untuk mendukung buruh, memang tidak jelas sejauh apa? Apakah kaum buruh harus menguasai negara? Atau setidaknya memiliki bargaining?

Tapi penguatan buruh sudah pasti dimaksudkan untuk mengesampingan pola pikir seolah-olah berhentinya penindasan terhadap buruh akan datang dengan sendirinya dari pemimpin negara yang baik hati. Itu sebuah ilusi.

Tulisan Romo Herry yang diposting Beathor Suryadi, mantan anggota DPR RI dari PDIP ini, sekali lagi misterius bagi saya. Apakah dia memang diminta penguasa menyebarkan tulisan itu? Apa maksudnya?

Roda waktu berjalan terus. Kesenjangan sosial terus memburuk. Pemerintahan Jokowi-JK, juga rezim-rezim sebelumnya, cuma prihatin. Buruh terus tertindas dalam kemiskinan. Para demagog mencari dukungan pemilih dalam pilkada dan pilpres. Negara dan aparaturnya bekerja untuk orang kaya. Tinggal kaum buruh berpikir untuk bangkit menyelamatkan dirinya.

Oleh Dr. Syahganda Nainggolan, Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle. Tulisan ini didedikasikan untuk Januar, Beri Ashari, Janiardi, buruh miskin kuli angkut Pelabuhan Pontianak, yang dipenjara karena lemahnya hak hak buruh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *