ALL

Berkunjung ke Wae Rebo, Desa Indah di Atas Awan

By  | 

Desa Wae Rebo | Foto: Yopie Moon

KedaiPena.com – Wae Rebo merupakan destinasi wisata unik yang berada di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Wae Rebo merupakan kampung tradisional dan terpencil yang masih terjaga keasliannya. Wae Rebo juga terkenal dengan sebutan kampung di atas awan. Ya, Wae Rebo di Flores yang terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

KedaiPena.Com sempat menyambangi Wae Rebo belum lama ini. Di kampung ini terdapat tujuh rumah utama yang disebut “Mbaru Niang” sebagai bangunan komunal.

Untuk bisa sampai di Wae Rebo, pengunjung harus mulai dari Ruteng, NTT. Jika dari Denpasar, Bali, bisa langsung menuju Ruteng lewat jalur udara.

Apabila tidak ada penerbangan menuju Ruteng, anda dapat menggunakan bus atau travel dari Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat yang memakan waktu sekitar 6 jam.

Setelah tiba di Ruteng, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Denge atau Dintor selama kurang lebih 2 jam yang merupakan desa terakhir yang dapat diakses dengan kendaraan.

Untuk ke Denge dapat menggunakan ojek atau truk kayu, biasanya dapat ditemukan di Terminal Mena yang beroperasi dari jam 09.00 sampai 10.00.

Jika ingin lebih hemat, gunakan truk kayu. Hanya saja angkutan ini tidak setiap hari beroperasi. Selanjutnya perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki menuju Desa Wae Rebo selama 4-5 jam dari Denge, melewati hutan dan melakukan pendakian yang sangat menakjubkan.

Akses hanya dilakukan melalui jalan kaki dan dipandu oleh penduduk lokal Wae Rebo. Untuk ‘guide’ dan tiket masuk, wisatawan harus merogoh kocek sebesar Rp250 ribu.

Untuk wisatawan yang mau berkunjung ke Wae Rebo tidak perlu khawatir jika ingin menginap. Penginapan tradisional dengan menu makanan dari menu tradisional tersedia di sini. Di sini, wisatawan bisa menginap dengan kisaran harga Rp325 ribu plus makanan tradisional dan kopi khas Wae Rebo.

Saat sampai di Wae Rebo pengunjung disajikan ritual “Teing Wae Lu’u”. Ritual ini penghargaan kepada nenek moyang, sebagai simbol ucapan salam dan permisi kepada leluhur yang sudah meninggal.

Setelah itu, wisatawan bisa bebas mengambil gambar, dan memasuki kampung. Namun tetap jaga perilaku sebab kampung tradisional ini merupakan peninggalan leluhur, jadi tidak boleh sembarangan.

Di Wae Rebo, kita akan dikenali dengan berbagai kearifan lokal manggarai yang masih terjaga keasliannya. Di antaranya hasil tenunan khas Manggarai, tikar Manggarai dan aksesoris lokal lainnya.

Jangan lupa juga nikmati kopi khas Wae Rebo yang membuat para pengunjung nyaman dan nikmat. Puas berkeliling, pengunjung juga bisa berbelanja cinderamata tradisional.

Untuk para pengunjung, jangan lupa membaca petunjuk dan arahan yang terpampang di papan informasi agar tidak tersesat.

Laporan: Yopie Moon

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *