ALL

Bencana Silih Berganti, DPR Siapkan Paradigma Mitigasi Bencana Baru Bagi Masyarakat 

By  | 

Dampak Tsunami Selat Sunda | Foto: Istimewa

KedaiPena.Com – Deretan bencana terus datang silih berganti dari satu daerah ke daerah di Indonesia. Mulai dari gempa hingga tsunami meninggalkan duka yang mendalam lantaran banyak korban jiwa berjatuhan.

Terbaru bencana tsunami menimpa Selat Sunda. Sejumlah wilayah di Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan rusak parah dengan korban jiwa yang terus bertambah.

Bencana tentu tidak bisa dihalangi datangnya namun satu hal bisa dilakukan yakini langkah konkret penanganan mitigasi bencana bagi masyarakat Indonesia.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Sodik Mudjahid memang mengakui bahwa mitigasi bencana di Indonesia masih sangat lemah. Selama ini mitigasi bencana juga belum dijadikan prioritas.

“Oleh karena itu fraksi Gerindra di Komisi 8 menggagas paradigma baru penanganan bencana di Indonesia yakni membangun masyarakat dan sistem yang waspada dan tanggguh bencana melalui penguatan sistem mitigasi bencana,” ujar Sodik kepada KedaiPena.Com, ditulis Rabu (26/12/2018).

Sodik mengungkapkan bahwa paradigma baru membangun sistem dan masyarakat wadpada bencana melalui penguatan mitigasi dicirikan oleh 4 hal.

Pertama, kata dia, ialah penggunaan teknologi deteksi dini yang modern dan memadai jumlahnya di Indonesia. Lalu edukasi dan diklat paham waspada dan tangguh bencana secara masif dan sistematis.

“Pengaturan tata ruang penggguanaan lahan yang aman fungsional dan cegah kerusakan lingkungan serta pemakaian kontruksi bangunan yang tahan bencana,” beber Sodik.

Ia menambahkan bahwa paradigma baru soal mitigasi bencana ini sedianya juga akan dibarengi dengan kesiapan aparat yang domotori aparat BNPB pusat, BPBD dan semua yang terkait.

Ketua DPP Partai Gerindra ini juga mengingatkan bahwa pelibatan semua pihak dalam UU bencana juga sudah diatur dengan BNPB sebagai koordinator.

“Paradigma baru ini telah disetujui oleh pemerintah dan fraksi-fraksi dari partai lainnya di Senayan,” ujar dia.

Laporan: Muhammad Hafidh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *