ALL

Antara Jengkol, Duren dan Kritik Terhadap Tata Kelola Sawit Semasa Reformasi  

By  | 

Foto Udara Kebun Sawit di Ciletuh | Foto: Dok KedaiPena.Com

KedaiPena.Com – Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto menyoroti pendapat Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait dengan saranya terhadap masa depan para petani sawit di Indonesia.

Diketahui, beberapa bulan lalu, presiden jokowi dalam kunjungannya ke Provinsi Riau agar petani sawit menanam jengkol. Tidak lama berselang, beberapa waktu lalu presiden Jokowi sarankan lagi agar tanam durian. 

“Pernyataan tersebut punya makna kritis dan sekaligus kritik terhadap tata kelola sawit selama masa reformasi,” ujar dia dalam keterangan kepada KedaiPena.Com, ditulis Jumat (22/3/2019).

Pernyataan Pesiden Jokowi tersebut juga merupakan sebuah imbauan untuk petani sawit yang sudah ada saat ini. Imbauan tersebut khusus ke soal pengelolaan lahan petani sawit.

“Perkebunan rakyat 43% dari total luas kebun sawit 14,3 juta Ha. Kurang lebih 30% petani swadaya dari total luas kebun petani tersebut hidup dalam kesusahan seperti jual ke tengkulak dan harga yang sangat rendah. Luas kebun mereka rata-rata kurang dari 8 Ha,” tutur dia.

Tidak hanya itu, kata dia, pernyataan yang disampaikan oleh Jokowi juga merupakan sindiran bagi petani pangan, petani padi dan karet. 

“Karena kecenderungan setiap tahun, ketika harga sawit mulai membaik, petani pangan, padi dan karet sebagian kecil mengalihkan komoditasnya jadi kelapa sawit. Bahkan mereka rela karet dan sawahnya ditumbang jadi kebun-kebun sawit karena harganya  sangat mendukung,” tutur dia.

“Tapi petani-petani sawit dan pangan rata-rata pada umumnya tidak paham bahwa harga sawit itu akan membaik kalau didukung dengan kondisi-kondisi ekonomi politik dalam negri dan negara AS, India, Cina dan Eropa sebagai negata orientasi ekspor sawit dalam iklim yang lebih baik,” sambung dia.

Selain itu, lanjut dia, masukan Jokowi juga mempunyai makna kritik untuk aparatur birokrasi daerah dan provinsi yang suka memberi Ijin tapi tidak memiliki peta komoditas dan analisis pasar.

“Resiko ke depannya ketika ijin terus dibuka, kemampuan pengawasan untuk masalah deforestasi tidak bisa dilakukan dan serapan pasar terbatas dan tantangan pertarungan dagang, maka akan memukul kehidupan petani sawit,” tandas dia.

Laporan: Muhammad Hafidh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *